31/07/10

Pergaulan Bebas Remaja

A. Latar Belakang

Dewasa ini, pergaulan bebas yang terjadi di kalangan remaja banyak berasal dari eksploitasi seksual pada media massa yang ada di sekeliling kita. Eksploitasi seksual dalam video clip, majalah, televisi dan film-film ternyata medorong para remaja untuk melakukan aktivitas seks secara sembarangan di usia muda. Dengan melihat tampilan atau tayangan seks di media, para remaja itu beranggapan bahwa seks adalah sesuatu yang bebas dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja.

Oleh karena itu, kami tertarik untuk membahas tema “Pergaulan Bebas Remaja Masa Kini”. Dengan membahas tema ini diharapkan akan didapatkan wawasan tentang pergaulan remaja dan hal-hal yang menyertainya. selain itu kami juga berharap makalah ini dapat menjadi pedoman yang baik dalam pergaulan remaja yang sesuai dengan tuntunan agama dan negara. Akan dikaji lebih lanjut sebagai informasi bagi kaum remaja yang sangat berkaitan erat dengan tema di atas.

B. Rumusan Masalah

1. Perihal apa saja yang dapat dikategorikan sebagai pergaulan bebas?

2. Apakah modernisasi berpengaruh terhadap pergaulan bebas?

3. Apa saja yang menjadi faktor pendorong terjadinya pergaulan bebas yang tidak bisa dikontrol?

4. Apakah setiap negara memiliki persamaan pandangan tentang pergaulan bebas?

5. Bagaimanakah cara yang efektif untuk mencegahnya terjadinya pergaulan bebas?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk :

1. Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang dapat dikategorikan sebagai pergaulan bebas.

2. Untuk mengetahui pengaruh modernisasi terhadap pergaulan bebas.

3. Untuk mengetahui factor-faktor pendorong terjadinya pergaulan bebas yang tidak bisa dikontrol.

4. Untuk mengetahui pandangan berbagai negara mengenai pergaulan bebas.

5. Untuk mengetahui cara-cara yang efektif untuk mencegah pergaulan bebas yang tidak terarah.

D. Manfaat

Dengan ini remaja dapat mengerti apa peran orangtua sehingga mereka akan menghargai peran dan usaha-usaha yang dilakukan orangtua demi membentuk lingkungan yang baik untuk mereka.

Dari hasil pengamatan ini, kita dapat mengetahui perbedaan definisi pergaulan bebas di berbagai lingkungan serta pandangan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut terhadap pergaulan bebas. Selain itu, kita dapat pengetahui cara-cara yang terbaik untuk menghindari keterjerumusan remaja dalam pergaulan bebas.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN

A. Kajian Pustaka

1. Pengertian Pergaulan Bebas

Pergaulan bebas sering dikonotasikan dengan sesuatu yang negative seperti seks bebas, narkoba, kehidupan malam, dan lain-lain. Kita tentu tahu bahwa pergaulan bebas itu adalah salah satu bentuk perilaku menyimpang, yang mana “bebas” yang dimaksud adalah melewati batas-batas norma ketimuran yang ada. Masalah pergaulan bebas ini sering kita dengar baik di lingkungan maupun dari media massa. Pergaulan bebas adalah suatu keadaan dimana terjadinya interaksi antar lawan jenis. Arti dari pergaulan bebas dapat meluas sampai pada tahap dimana dua individu berpacaran. Pergaulan bebas tidak mencakup hubungan istimewa antara dua individu, melainkan mencakup interaksi antar lawan jenis yang terjadi di masyarakat, sekolah, kantor, dan lain sebagainya.

Remaja adalah individu labil yang emosinya rentan tidak terkontrol oleh pengendalian diri yang benar. Masalah keluarga, kekecewaan, pengetahuan yang minim, dan ajakan teman-teman yang bergaul bebas membuat makin berkurangnya potensi generasi muda Indonesia dalam kemajuan bangsa

Tingginya kasus penyakit Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), khususnya pada kelompok umur remaja, salah satu penyebabnya akibat pergaulan bebas. Demikian pula masalah penyalahgunaan obat-obatan seperti narkoba sangat memprihatinkan. Sekarang ini di kalangan remaja pergaulan bebas semakin meningkat terutama di kota-kota besar. Hal ini terjadi karena kurangnya bimbingan dan perhatian dari orang tua.
Sebelumnya para peneliti ini telah menemukan hubungan antara tayangan seks di televisi dengan perilaku seks para remaja.

Secara umum, kelompok remaja yang paling banyak mendapat dorongan seksual dari media cedeerung melakukan seks pada usia 14 hingga 16 tahun 2,2 kali lebih tinggi ketimbang remaja lain yang lebih sedikit melihat eksploitasi seks dari media.

Maka tidak mengherankan kalau tingkat kehamilan di luar nikah sangat meningkat dari tahun ke tahun, begitu juga pengakit menular seksual (PMS) kini menjadi ancaman kesehatan publik.

Karena modernisasi, pergaulan bebas merupakan hal yang sudah sewajarnya terjadi. Batas sampai dimana pergaulan bebas boleh berlangsung berbeda dari masyarkat tertentu ke masyarakat lainnya. Karena kondis emosional yang labil dan pencarian jati diri tanpa arahan,sering kali remaja terjerumus dalam pergaulan bebas yang bersifat negatif.

Modernisasi sangat berpengaruh dalam segala hal terutama pergaulan bebas. Karena dari tayangan televisi yang sebenarnya berkategori dewasa yang kerap disaksikan oleh anak-anak dan remaja sering kali terjadi kesalahpahaman terhadap arti dari pergaulan bebas sehingga hal tersebut dipandang sebagai sesuatu yang negatif oleh kebanyakan masyarakat.Keterjerumusan pergaulan bebas yang tidak positif dapat berupa seks bebas, narkoba, dan tindakan kriminal lainnya.

2. Pengertian Seks Bebas

Seks Bebas

Pergaulan bebas di kalangan remaja, baru-baru ini saja terjadi. Dijelaskan, indikator dari memiliki akhlaq yang buruk antara lain adalah memiliki sifat takabur, hasud, dendam, mudah marah, bohong, ingkar janji, menyia-nyiakan waktu, tidak punya rasa malu, buruk sangka, penakut dan sebagainya. "Sedangkan indikator dari prilaku fatamorgana antara lain suka pacaran, seks bebas, narkoba, merokok, meminum khamar, gila mode, lupa aurat, konsumtif, percaya pada astrologi dan lain-lain. Semua prilaku tersebut sangat tidak baik bila terus menggelayuti kehidupan kita, sehingga harus dihindari semampu kita.


1. Resiko seks bebas

Ada dua dampak yang ditimbulkan dari perilaku seks di kalangan remaja yaitu kehamilan dan penyakit menular seksual. Di Amerika. setiap tahunnya hampir satu juta remaja Perempuan menjadi hamil dan sebanyak 3,7 juta kasus baru infeksi penyakit kelamin diderita oleh remaja.

Kehamilan remaja bahkan sudah terbukti dapat memberikan risiko terhadap ibu dan janinnya. Risiko tersebut adalah disproporsi (ketiduksesuaian ukuran) janin, pendarahan, prematurilas, cacat bawaan janin, dan lain-lain. Bagi remaja laki-laki, masalah juga timbul karena ketidaksiapan mental dan tanggung jawab mereka sebagai ayah.

Selain hamil, timbulnya penyakit menular seksual pada remaja juga perlu dicermati. Penyakit tersebut ditularkan oleh perilaku seks yang tidak aman atau tidak sehat. Misalnya, remaja yang sering berganti-ganti pasangan atau berhubungan dengan pasangan yang menderita penyakit kelamin. Selain akan membawa cacat kepada bayi, Penyakit menular seks yang menyerang usia remaja juga dapat mengakibatkan penyakit kronis dan gangguan kesuburan di masa mendatang.

2. Faktor seks bebas

- Faktor individual

Kebanyakan dimulai pada saat remaja, sebab pada remaja sedang mengalami perubahan biologi, psikologi maupun sosial yang pesat.


- Faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik sekitar rumah, sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat:
A) Komunikasi orang tua dan anak kurang baik
B) Hubungan kurang harmonis
C) Orang tua yang bercerai, kawin lagi
D) Orang tua terlampau sibuk, acuh
E) Orang tua otoriter
F) Kurangnya orang yang menjadi teladan dalam hidupnya
G) Kurangnya kehidupan beragama
- Lingkungan Sekolah
A) Sekolah yang kurang disiplin
B) Sekolah terletak dekat tempat hiburan
C) Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif.
D) Adanya murid pengguna
B) Alat Modern

B. Pembahasan
1. Pacaran

Pacaran bukanlah hal yang tabu untuk dibicarakan oleh remaja. malah, hal-hal yang berhubungan dengan kecintaan terhadap lawaan jenis merupakan hal yang wajar dan lazim terjadi, dan ini merupakan fitrah manusia. Para remaja dengan bebas saling bertukar perasaan, bercengkerama, bercampur baur (ikhtilat) antara lawan jenis, disebut sebagai budaya pacaran, bahkan tak ayal, beberapa remaja mempraktekkan rasa cinta mereka dengan melakukan sesuatu yang lebih jauh dari apa yang kita bayangkan.

Namun pacaran bukanlah wadah yang tepat untuk menyalurkan atau menampung perasaan yang disebut dengan cinta. Banyak orang (lover) yang mengagungkan dan memproklamirkan cinta dengan rangkaian kata yang begitu indah di dengar. Namun, banyak cinta yang demikian berujung pada pembunuhan bayi yang baru lahir tetapi tidak diinginkan, banyak orang bercinta melakukan hal yang keji, dan tak jarang ada pula cint yang berubah menjadi perceraian dan membawa ke masa depan yang suram.

Dengan kata lain, pacaran adalah media awal bagi remaja untuk menuju ke pergaulan bebas dan berakibat tidak baik bagi pelakunya.

2. Pengaruh Modernisasi terhadap Pergaulan Bebas

Kemajuan teknologi saat ini tidak bisa dipungkiri lagi, apalagi dipisahkan dari masyarakat khususnya para remaja. Berbagai akses informasi dari belahan dunia bisa langsung kita ketahui hanya dalam hitungan detik, seolah dunia ini semakin sempit.

Kemajuan ini tentunya membuat perubahan yang amat besar bagi umat manusia dengan segala perbedaan dan budayanya. Perubahan ini juga tentunya membawa dampak besar terhadap transformasi nilai-nilai yang ada di masyarakat. Dampak yang kita saksikan begitu jelas dan besar pengaruh kemajuan teknologi terhadap nilai – nilai kebudayaan, hal ini memicu adanya proses modernisasi. Teknologi seperti televisi, telepon dan telepon genggam ( HP ), bahkan internetpun bukan menjadi sesuatu yang aneh mulai dari kota hingga pelosok-pelosok desa. Akibatnya baik nilai positif maupun negatif dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat. Tanpa kita sadari perlahan-lahan mulai merubah pola hidup dan pola berpikir masyarakat khususnya masyarakat pedesaan dengan segala image yang menjadi ciri khas tersendiri bagi mereka.

Di kalangan remaja yang merupakan komponen terpenting masyarakat yang paling rentang terkena dampak dari modernisasi ini, kenapa? Karena mereka lebih dekat dan lebih banyak berinteraksi dengan teknologi seperti televisi, HP, ataupun internet. Dan juga secara pengaruh merekalah yang paling rentan terkena pengaruh / dampak negatif dari teknologi tersebut. Dulu kita lihat para siswa bersekolah hanya dengan membawa buku – buku pelajaran ataupun alat tulis, tapi kini kita dapat saksikan para siswa berangkat sekolah dengan HP yang sudah menjadi barang wajib bagi mereka. Entah sebenarnya mereka benar – benar membutuhkannya sebagai alat komunikasi atau tidak, yang jelas sekarang bagi para remaja, HP merupakan sarana gaul yang mutlak mereka miliki. Dan inipun kembali menjadi ajang kompetisi tersendiri bagi mereka, semakin bagus dan canggih HP yang mereka punya, semakin gaul dan percaya dirilah mereka. Dari mana meraka mendapatkan HP tesebut? Tentunya dari orang tua, apalagi bagi mereka yang tergolong berkecukupan. Orang tua seperti itu akan merasa bangga jika sudah bisa memenuhi permintaan – permintaan anaknya tanpa memperhatikan lebih jauh dari dampak yang akan ditimbulkan. Dan anehnya jika dampak negatif si anak sudah dirasa oleh orang tua, mereka pasti akan menyalahkan mereka.

Memberikan alat komunikasi seperti HP kepada anak sebenarnya bukan hal yang salah, kerena dengan hal tersebut mungkin orang tua berharap, komunikasi dengan si anak menjadi lebih mudah dan lancar. Akan tetapi hal tersebut menjadi boomerang ketika ternyata HP tersebut disalahgunakan untuk hal-hal negatif seperti menyimpan foto-foto ataupun video porno, dan juga digunakan sebagai alat yang memperlancar komunikasi dengan lawan jenis seperti pacaran. Sehingga, dampak negatif si anak seperti pergaulan bebas, seks diluar nikah dan menurunnya prestasi belajar bahkan juga bisa terjadi anak mengambil uang ataupun barang milik orang tua tanpa izin hanya untuk membeli pulsa. Jika sudah seperti ini siapa lagi yang akan disalahkan? Oleh karena itu orang tua sebaiknya memperhatikan secara matang-matang tentang dampak bagi si anak sebelum memberikan barang seperti HP atau yang lainnya. Selain itu orang tua juga baiknya ikut mengawasi dan mengarahkan agar anak tidak lepas kontrol dalam menggunakan HP, apalagi sekarang sudah banyak HP dengan segudang fitur yang membuat para remaja semakin tertarik untuk memilikinya. Seperti camera, video recorder, hingga internet di suguhkan di benda ini.

Selain HP, kemajuan kemajuan tehnologi juga ditandai dengan masuknya akses internet yang saat ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup remaja. Dengan internet meraka dapat dengan mudah mengakses data-data informasi dari seluruh dunia. Tentu tidak semua informasi yang disajikan adalah informasi yang layak diakses oleh para remaja. Terkadang dengan internet meraka dapat dengan bebas menyaksikan hal yang berbau pornografi dan pornoaksi yang memang dapat diakses dengan mudah di dunia maya ( internet ). Tentu hal ini menimbulkan efek yang kurang baik bagi perkembangan kepribadian remaja. Dari yang semula mereka merasa tabu tentang seks, sampai akhirnya mereka melihat seksualitas yang di obral di internet tanpa pengarahan dan bimbingan yang tepat dan mereka merasa penasaran bahkan mencobanya. Karena itu, tak heran jika saat ini pergaulan remaja khususnya di Indonesia menjadi sangat menghawatirkan dan meresahkan masyarakat terutama orang tua.

Televisi juga merupakan produk modernisasi yang memberikan dampak besar terhadap kehidupan dan perubahan nilai-nilai masyarakat. Khususnya para remaja, banyak dari mereka yang meniru gaya hidup dari publik figur yang mereka saksikan lewat televisi. Mulai dari model baju terbaru, potongan rambut, bahkan tak jarang dari mereka yang meniru tingkah laku para selebritis yang meraka lihat di televisi, tanpa perduli apakah gaya dari publik figur yang meraka tiru sesuai dengan kondisi dan situasi dimana meraka tinggal atau tidak. Memang pasa masa transisi ini para remaja mencari sesuatu yang dipandang bernilai, pantas dijunjung tinggi dan dipuja, serta menjadikan role modelnya itu sebagai identitasnya. Tak heran jika kita dapati banyak remaja yang meniru gaya selebritis idola meraka, dari mulai gaya rambut, gaya berbusana bahkan gaya pacaran para artis yang mereka saksikan lewat televisi.

Kita sebagai remaja seharusnya lebih mengerti kondisi dan kewajiban kita sebagai anak sekaligus harapan keluarga dan Bangsa ini. Masa remaja merupakan masa yang paling rentan dalam perkembangan kejiwaan. Pada usia remaja ini, kita telah meninggalkan usia kanak-kanak dimana kita tidak dapat disebut lagi sebagau anak kecil. Tapi juga belum bisa diterima dalam kelompok orang dewasa. Pada masa ini remaja telah mulai mencari-cari siapa dirinya sebenarnya ( looking for identity / identity information ), berusaha untuk menemukan kelompok atau teman-teman yang mau mengakui kemampuan dan menghargai dirinya dan telah mulai memiliki minat terhadap lawan jenis ( minat seksual ). Masa remaja adalah masa pencari jati diri, dan bisa saja dalam proses pencarian jati diri itu remaja tersebut melaluli jalan yang benar atau jalan yang salah. Apabila remaja gagal dalam mengembangkan rasa identitasnya, maka remaja akan kehilangan arah dan berdampak buruk terhadap perkembangan kepribadiannya dimasa yang akan datang. Itulah kenapa masa remaja adalah masa yang paling rawan terhadap pengaruh yang datang daru luar. Baik itu positif ataupun negatif, disinilah peran sebagai orang tua sangat dibutuhkan untuk membimbing dan mengarahkan anak remaja agar tidak kehilangan kontrol dirinya ( self control ).

Semestinya juga sebagai orang tua, selalu memantau perkembangan anak,dengan tanpa mengekang kreatifitas ataupun dunia anak. Karena anak juga memiliki dunia sendiri, dimana tinggal dengan sejuta imajinasi dan juga teman- teman yang mereka miliki. Tugas orang tualah mendidik dan mengarahkan agar nanti dunia anak tidak hanya menjadi dunia yang dipenuhi dengan kegelapan, tapi juga dunia yang diwarnai dengan keceriaan dan kebahagiaan serta dunia dimana mereka mencari citra dirinya ( image of self ) serta positif dan memiliki rasa percaya diri ( self esteem ).

Sekarang ini, akibat produk modernisasi tadi dapat kita lihat bahea tak ada bedanya gaya hidup remaja kota dengan gaya hidup remaja desa. Budaya Barat yang dulu diadaptasi dan ditiru remaja kota, kini telah melanda remaja desa berkat kemajuan tehnologi. Budaya tolong menolong, budaya santun dan lugu yang juga menjadi cirri khas remaja desa perlahan mulai pudar meskipun tidak hilang sama sekali dan berganti dengan budaya urakan yang dengan bangga mereka sebut dengan istilah “ GAUL”.

3. Beberapa Bentuk Pergaulan Remaja Di Berbagai Belahan Dunia

Pandangan mengenai pergaulan bebas dari tiap-tiap negara berbeda-beda tergantung dari budaya, adat istiadat, serta kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar penduduk negara tersebut. Berikut perbedaan dari setiap negara/benua.

a) Amerika Serikat

Penanggulangan Penyakit dan Pencegahannya (CDC) yang berada di Amerika menyebutkan bahwa 3,2 juta remaja Amerika yang berumur 14-19 tahun, terjangkit penyakit menular seksual, dan angka tersebut secara prosentase telah mencakup 26% dari jumlah total remaja perempuan di usia tersebut.

Sebagaimana diketahui, bahwa remaja Amerika amat akrab dengan budaya pergaulan bebas, dimana pergaulan terhadap lawan jenis tidak mimemiliki batas yang jelas. Dan negara pun mendukung budaya itu, sehingga tidak ada hak bagi orang tua untuk melarang aktivitas kebebasan anak-anak mereka. Budaya ini memiliki andil yang cukup besar dalam penularan penyakit seksual di negara itu

b) Australia

Tingkat kenakalan remaja di Australia lebih tinggi ketimbang remaja di Amerika Serikat. Penelitian lembaga "Murdoch Children's Research Institute" di Australia dan Universitas Washington, AS, menemukan fenomena kenakalan remaja di kedua negara tersebut dengan mewawancarai 4.000 pelajar berusia antara 12 dan 16 tahun di Victoria, Australia, dan di Washington State, AS.

c) Indonesia

Indonesia mendefinisikan pergaulan bebas adalah salah satu bentuk perilaku menyimpang, “bebas” yang dimaksud adalah melewati batas-batas norma ketimuran yang ada. Masalah pergaulan bebas di Indonesia sering kita dengar dari lingkungan mana pun, baik dari media massa. Telah jelas bagi kita tidak adanya Rancangan pembentrukan Undang-Undang legalisasi aborsi, karena hal itu bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, Agama, dan Hukum yang berlaku. Legalisasi aborsi akan mendorong pergaulan bebas lebih jauh dalam masyarakat. Data statistik nasional mengenai penderita HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 75% terjangkit hilangnya daya tubu hpada usia remaja.

d) Jepang

Daerah Niigata, salah satu kota indah di Tokyo sedang marak dengan tren rok mini (minisuka). Pelajar wanita di Niigata seakan merasa “lazim” mengenakan rok mini, padahal pihak sekolah dan orang tua melarangnya. Bahkan saat terjadi razia, mereka membawa rok ganti yang lebih panjang, dan setelah razia, mereka memakai kembali rok mini itu.

Remaja Jepang memiliki etika ketika berpacaran. Mereka akan menganggap remeh orang yang saat berpacaran namun masih menjaga virginity-nya. Jadi, mereka memiliki ketentuan ketika berpacaran mereka harus melakukan seks bebas dengan kekasihnya.

Adapun pelecehan seksual banyak terjadi di Jepang, terutama bagi kalangan wanita. Contohnya, pria mesum, ketika di supermarket mengambil kesempatan saat wanita ber-rok mini sedang sibuk berbelanja dan pria tersebut mencoba memotret celana dalam wanita tersebut. Hal yang sama terjadi pula di sebuah Shinkansen (kereta listrik), ketika para penumpang sedang berdesakan di dalamnya, para pria mesum atau lebih dikenal dengan molester menggunakan kesempatan tersebut dengan melakukan hal-hal yang tidak senonoh terhadap wanita.

Hal-hal diatas tersebut merupakan contoh-contoh pergaulan bebas menurut pengertian Jepang. Pergaulan bebas remaja di Jepang dapat dikategorikan sebagai pergaulan yang sangat bebas, namun mereka masih menganut tradisi kuno Jepang yang dikenal cukup disiplin.

e) Afrika

Pergaulan bebas di kalangan masyarakat Afrika Selatan di kawasan-kawasan perkotaan dan penindasan budaya kaum kulit hitam sewaktu era apartheid telah mengakibatkan hilangnya cara hidup lama di kota-kota di sini. Namun, budaya kulit hitam masih ada di kawasan pedesaan. Beberapa perbedaan budaya tetap ada diantara etnis-etnis di sana, seperti adat perkawinan dan hukum adat mereka. Tetapi pada umumnya, tradisi masyarakat kulit hitam adalah berlandaskan kepercayaan kepada dewa-dewa yang perkasa serta maskulin, semangat nenek-moyang dan kuasa-kuasa gaib. Poligami juga dibenarkan dan "lobolo" (mas kawin) biasanya akan dibayar. Kerbau memainkan peranan penting dalam kebanyakan budaya, sebagai simbol kekayaan dan hewan korban. Pergaulan yang positif pun tidak berjalan secara lancar, seks bebas terjadi dimana-mana. Adapun sebuah acara/upacara, yang pada akhirnya mereka bermabuk-mabukan, sehingga lepas kontrol akan kelakuan mereka dan tidak menutup kemungkinan hal ini menuntun mereka ke dalam seks bebas. Seks yang dimaksud dapat dilakukan dengan siapa pun, bahkan seorang wanita dapat bersemalam dengan beberapa pria.

f) Eropa

Dapat kita katakan bahwa Eropa merupakan titik awal dari tersebarnya pergaulan bebas. Budaya Eropa cenderung bersifat bebas, terlebih dari segi agama yang berbeda dengan anutan Islami, juga memiliki sudut pandang yang sangat terbuka.

Dalam kehidupan kesehariannya, setiap mahasiswa di Eropa menerima bungkusan “biru” yang berisi satu set lengkap peralatan persiapan untuk melakukan seks, di antaranya adalah kondom. Pemberian tersebut gratis, tanpa bayar. Hal ini menunjukkan betapa terbukanya mereka dengan hal-hal yang dianggap tabu oleh masyarakat timur.

Adapun masyarakat di sana tidak hanya melakukan “pergaulan” dengan lawan jenis, namun ada beberapa kumpulan orang yang dengan bangganya disebut sebagai “homo” taupun “lesbi”.

g) Timur Tengah

Berbeda halnya dengan Eropa, negara-negara di timur tengah terkesan sangat tertutup, terutama di Saudi Arabia. Ketekunan akan menjalani aturan Islami sangatlah kental, menyebabkan adanya jarak penutup atau pemisah disetiap lawan jenis. Wanita diwajibkan berhijab (menutup aurat) dan kebanyakan memakai cadar, ini merupakan bukti adanya aturan yang melarang kaum hawa bergaul bebas dengan kaum adam. Pergaulan dalam konteks Islami sangatlah tidak sama dengan apa yang ada di negara barat. Seperti bersentuhan kulit secara langsung sangat tidak dibolehkan oleh Islam, karena bukan muhrim. Dengan ini, otomatis pacaran pun diharamkan.

Namun, semua peraturan tidak sepenuhnya dipatuhi sebagaimana watak manusia. Banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan termasuk pelecehan kaum wanita. Kehidupan yang tertutup seperti itu kadang kala membuat para pria tidak terbiasa untuk melihat wanita. Hal ini dapat menyebabkan banyak hal.

5. Cara Pencegahan

Kita semua mengetahui peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME, penyaluran minat dan bakat secara positif merupakan hal-hal yang dapat membuat setip orang mampu mencapai kesuksesan hidup nantinya. Tetapi walaupun kata-kata tersebut sering ‘didengungkan’ tetap saja masih banyak remaja yang melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan. Solusi-solusi untuk mencegah hal tersebut terjadi adalah sebagai berikut :

1. Memperbaiki cara pandang dengan mencoba bersikap optimis dan hidup dalam “kenyataan”, maksudnya sebaiknya remaja dididik dari kecil agar tidak memiliki angan-angan yang tidak sesuai dengan kemampuannya shingge apabila remaja mendapatkan kekecewaan mereka akan mampu menanggapinya dengen positif


2. Menjaga keseimbangan pola hidup. Yaitu perlunya remaja belajar disiplin dengan mengelola waktu, emosi, energi serta pikiran dengan baik dan bermanfaat, misalnya mengatur waktu dalam kegiatan sehari-hari serta mengisi waktu luang dengan kegiatan positif


3. Jujur pada diri sendiri. Yaitu menyadari pada dasarnya tiap-tiap individu ingin yang terbaik untuk diri masing-masing. Sehingga pergaulan bebas tersebut dapat dihindari. Jadi dengan ini remaja tidak menganiaya emosi dan diri mereka sendiri.


4. Memperbaiki cara berkomunikasi dengan orang lain sehingga terbina hubungan baik dengan masyarakat, untuk memberikan batas diri terhadap kegiatan yang berdampak negatif dapat kita mulai dengan komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekeliling kita.


5. Perlunya remaja berpikir untuk masa depan. Jarangnya remaja memikirkan masa depan. Seandainya tiap remaja mampu menanamkan pertanyaan “Apa yang akan terjadi pada diri saya nanti jika saya lalai dalam menyusun langkah untuk menjadi individu yang lebih baik?” kemudian hal itu diiringi dengan tindakan-tindakan positif untuk kemajuan diri para remaja. Dengan itu maka remaja-remaja akan berpikir panjang untuk melakukan hal-hal menyimpang dan akan berkurangnya jumlah remaja yang terkena HIV & AIDS nantinya.

Selain usaha dari diri masing-masing sebenarnya pergaulan bebas dapat dikurangi apabila setiap orang tua dan anggota masyarakat ikut berperan aktif untuk memberikan motivasi positif dan memberikan sarana & prasarana yang dibutuhkan remaja dalam proses keremajaannya sehingga segalanya menjadi bermanfaat dalam kehidupan tiap remaja.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pergaulan bebas bukanlah hal yang dapat dikategorikan sebagai pergaulan yang baik dan benar. Oleh karena itu, remaja perlu waspada dalam hal bergaul dan memilih teman yang baik untuk kehidupannya. Pergaulan yang baik merupakan cerminan dari teman yang baik pula. Kesalahan dalam bergaul dapat menjerumuskan siapa saja dan kapan saja. Selain itu, perlu adanya kemandirian, ketegasan, dan kesadaran akan siapa identitas dirinya sendiri.

B. Saran

Perlu kiranya remaja melibatkan diri dalam program-program atau acara-acara yang positif dan bermanfaat bagi dirinya sendiri, baik di sekolah maupun di lingkungan luar sekolah, dengan restu dari orang tua dan dukungannya. Serta berbanyaklah doa.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

makalah Anda bagus.isinya sangat bermanfaat bagi generasi muda saat ini,kita menjadi tahu tentang hal-hal bermanfaat yang dapat kita lakukan,mengetahui tentang cara untuk menghindari pergaulan bebas itu sendiri,mengetahui tentang pergaulan anak remaja di negara luar yang tidak sebaiknya kita tiru,dll.Tq :)

Poskan Komentar